Pada hari pertama, JAFF 2025 dibuka dengan Pembukaan festival istimewa dengan pemutaran film “Opera Jawa (35 mm)". Di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), Universitas Gadjah Mada (UGM),yang memberikan pengalaman sinematik berbeda bagi para penonton dan pecinta film.
Memasuki hari kedua hingga hari-hari berikutnya, JAFF 2025 menyuguhkan beragam kegiatan seperti workshop, diskusi, serta Star Nimbrung yang menghadirkan tamu spesial dari dunia perfilman. Setelah rangkaian sesi belajar dan berbagi pengalaman, acara diakhiri dengan nonton bersama, memberikan ruang interaksi antara pembuat film, penonton, dan komunitas.
Rifqi selaku pengurus UKM Navi Film, yang mengikuti festival ini sebagai upaya memperluas wawasan sekaligus membangun jejaring perfilman. Ia menjelaskan bahwa keikutsertaannya memiliki tujuan yang sangat penting bagi pengembangan kompetensi pribadi maupun organisasi. “Tujuannya itu untuk memahami lebih dalam mengenai tren, isu, serta dinamika perfilman kontemporer yang berkembang di Indonesia. Saya ingin memanfaatkan forum ini sebagai ruang belajar dan diskusi untuk meningkatkan kualitas karya, terutama dalam penyutradaraan, storytelling, dan penyampaian pesan-pesan sosial maupun budaya melalui medium film,” ujarnya.
Keikutsertaan berbagai komunitas film, termasuk UKM Navi Film, menunjukkan besarnya antusiasme generasi muda dalam memajukan dunia perfilman Indonesia. JAFF 2025 tidak hanya menjadi ruang apresiasi, tetapi juga wadah pertukaran gagasan, peningkatan kapasitas kreator, dan pertemuan para pelaku industri film dari berbagai daerah dan negara. Festival ini kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu acara film internasional paling berpengaruh di Asia Tenggara.